Realita masyarakat dalam pusaran pandemi Covid-19
Dokumentasi kegiatan persiapan penerapan ptokol kesehatan dimesjid nurul kautsar, menjelang hari raya idul fitri 1441 H, tahun 2020.
Oleh
Resky Suganda
Covid-19 atau (corona Virus Deases 2019) adalah suatu penyakit yang menular ke manusia, pertama kali di temukan di kota Wuhan, China pada akhir desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara termasuk indonesia dalam waktu beberapa bulan. indonesia pertama kali di duga terinveksi di perkirakan pada bulan februari.
Wabah virus corona (covid-19) telah menjadi bencana kemanusiaan yang menelan banyak korban. untuk mencegah penyebaran virus dari wuhan ini. Pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk menjaga jarak sosial, (sosial distancing). sayangnya penerapan sosial distancing tidak berjalan dengan mulus. kini virus corona menimbulkan penyakit baru yakni penyakit sosial seperti maraknya hoaks dan ketegangan sosial di masyarakat.
Dalam konteks indonesia ada tiga faktor yang menyebabkan kampanye ini tidak sepenuhnya diikuti oleh masyarakat yaitu faktor sosial, kultural dan spiritual. Secara sosial masyarakat indonesia memang masyarakat (komunal), yang kepentingan sosial berada di atas kepentingan individual. ini yang membuat, secara fisik pun, kedekatan sosial menjadi ruh bagi masyarakat. istilah sosial distancing, akan membuat masyarakat berpeluang menjadi terasing (sendiri) karena ini berarti melukai hakikat masyarakat timur yang sangat komunal. hal ini tentu saja mendorong masyarakat kemudian mengabaikan anjuran untuk melakukan sosial distancing.
Aspek kedua yaitu kultural dimana masyarakat indonesia masuk dalam kategori budaya (short term society), yaitu masyarakat jangka pendek, dimana masyarakat kita tidak terbiasa melakukan persiapan untuk menghadapi masa depan. Berbeda dengan masyarakat barat yang sangat sistematis dan terbiasa melakukan perencanaan berbagai hal. masyarakat kita terbiasa dengan hidup di masa sekarang yang termanifestasi.
Faktor ketiga yaitu spiritual yang kuat, membuat masyarakat memiliki keyakinan bahwa segala sesuatunya sudah diatur oleh kekuatan lain. Sehingga masyarakat kita cenderung pasrah terhadap segala tantangan kehidupan. ini yang kemudian membuat mereka tetap yakin bahwa kalau mereka tetap berada di ruang publik, selama belum takdirnya untuk menghadap yang maha kuasa, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan. (devie rahmawati).
1. Dalam kondisi pandemi (covid-19). di tengah arus berita mulai dari indonesia hingga berbagai negara terunggah di media sarana informasi seperti di televisi, majalah, sosial media dan lainnya. penting untuk kita bijak dalam mengelola media sosial, menyaring (filter) informasi dengan valid dan cerdas. dan mengambil tindakan yang tepat dalam mengomsunsi berita, tentang coronavirus yang tersebar dimana mana.
2. Komunikatif. Penyampain informasi mengenai covid-19 harus disajikan secara sederhana. sebagai manusia yang berdampingan satu dengan yang lainnya (Edukasi). harus menggunakan bahasa sederhana, bahasa pasaran, bahasa setempat, melakukan pendekatan dan jeli mengetahui tingkat pendidikan masyarakat karena itu berpegaruh dalam berkomunikasi agar penyampaian informasi dapat dipahami oleh masyarakat.
3. Riset oleh Singapure University of Technologi and Design (STUD). dalam perhitungannya menggunakan model SIR (Susceptible infeted-recovered) yang dipadukan data harian virus corona yang diperbarui dari berbagai negara. memprediksi berakhirnya wabah covid-19 di dunia berakhir pada 20 desember 2020. dan di Indonesia di prediksi wabah covid-19 berakhir pada oktober 2020 (situs web ddi.stud.edu.sg,).
4. Virus corona memiliki kecepatan penularan dibanding dengan virus yang lain. dan hingga kini belum ditemukan vaksinnya. sembari menunggu vaksin (obat). mencegah atau mengurangi risiko terpapar virus, bakteri dan kuman dengan mematuhi dan disiplin protokol kesehatan.
5. Disebut epidemi dan wabah karena penyakit virus corona termasuk bencana nonalam. Pada UU No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. yang dimaksud bencana terdiri dari alam, nonalam dan sosial. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh serangkaian peristiwa bencana non alam yang antara lain berupa, gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. dalam hal ini penyakit coronavirus (covid-19) termasuk bencana nonalam yang sudah ditingkat pandemi sesuai dengan peryataan, organisasi kesehatan dunia (WHO).
6. Prinsip bahwa tidak ada orang yang terlepas dari risiko bencana/musibah. manusia hanya berusaha mengurangi resiko kejadian bencana. dalam sistem penanggulangan bencana dikenal konsep mitigasi dan pengurangan resiko bencana. bagaimana kita memahami secara non fisik (pengetahuan). misalnya kita belajar mengetahui tanda tanda alam, kearifan lokal, teknologi secara fisik, kita membuat tanggul, penghijauan, konstruksi dan zonasi. secara sosial, yaitu penguatan organisasi, pemberdayaan ekonomi penegakan hukum dan regulasi. (isntitut rumah kampung kota).
7. Akhir akhir ini kita mendengar bahkan menyaksikan kejadian di beberapa wilayah bahwa ketika seorang terpapar virus corona. kita akan berjarak dan menjauhinya sehingga korban merasa terkucilkan dan ketakutan. bahwa terlepas dari itu semua justru kita harus memberikan kekuatan mental, semangat dalam menghadapi penyakit ini misalnya membawakan makanan dan menfasilitasi yang dapat menghilangkan rasa jenuh. dengan menaati protokol sehatan.
8. Jangan takut tapi jangan melawan. caranya adalah penguatan dari dalam dan luar. dari dalam menkomsumsi sayur sayuran, buah buahan dan produk peternakan seperti telur, susu dan lainnya. yang kaya akan kandungan nutrisi (4 sehat 5 sempurna). dari luar ialah mencuci tangan dengan air mengalir, menggunakan sabun seadanya, menyediakan hand zanitizer, menggunakan masker saat bepergian, berjemur dan melakukan kegiatan/aktifitas sesuai dengan hobinya untuk membangkitkan emosional dan imun tubuh.
Refleksi (reflection). Suatu bangsa akan diuji apabila tertimpah musibah/bencana. dalam situasi seperti ini dibutuhkan solidaritas dari segala komponen agar proses penanggulangan bencana dapat terkordinasi, penting untuk kita saling bahu membahu, bergotong royong, sama sama kerja (kerja sama). berkolaborasi dan bersinergi. Mari berperan tidak ada halangan untuk berkontribusi semua bisa bergerak di ranah masing masing. sebaliknya saat seperti inilah jiwa dan hati nurani yang menyayukan kita.
UU No. 24 Tahun 2007, tentang penanggulangan bencana.
Pengamat Sosial devie rahmawati, (faktapers.id.).
University of
Technologi and Design STUD, (situs web ddi.stud.edu.sg,).
Institute rumah
kampung kota, rumahkampungkota.blogspot.com.

Rumah belajar😍
BalasHapusDengan demikian seiring berjalannya waktu dan kembalinya aktifitas kita menerapkan istilah new normal...
BalasHapus12 Juni 2020 10.27
HapusSementara ini belum masuk pada penerapan "new normal" masih dalam proses transisi ke arah new normal tergantung pada kebijakan di tiap daerah. Namun wacana terkait new normal tidak berbanding lurus dengan data dan angka kasus positif covid-19 di Indonesia. Semoga kita selalu diberikan kekuatan dalam menghadapi bencana ini.