Hari Anak Nasional ( HAN ), 23 Juli 2019.



Pada momentum hari anak nasional ini, sebagai bentuk kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak sehingga akan menghasilkan generasi penerus yang sehat cerdas, ceria, berahlak mulia dan cinta tanah air.

Beberapa tantangan yang ada adalah adanya situasi yang tidak dapat dipungkiri bahwa meskipum berbagai kebijakan, program dan kegiatan sudah dilaksanakan dengan berbasis perlindungan hak anak di seluruh tingkatan wilayah. namun pemenuhan perlindungan dan hak anak masih belum sepenuhnya dapat dilakukan secara optimal. misalnya masih banyak anak yang belum memiliki akta kelahiran, masih terbatasnya wadah dan partisipasi anak dan suara anak pada proses pembangunan, maraknya kekerasan kepada anak baik yang dilakukan oleh orang yang terdekat maupun orang dewasa lainnya bahkan sesama anak itu sendiri.

Masih  ada anak yang mendapat kekerasan dirumah, dijalan, di sekolah atau ditempat tempat umum lainnya. yang dampaknya akan menganggu tumbuh kembang anak bahkan tidak jarang akan mengakibatkan anak pada saat dewasa akan menjadi pelaku kekerasan juga. dan yang paling krusial adalah masih ada anak yang belum mendapatkan pendidikan, masih ada anak yang belum mengeyam dan menyentuh dunia pendidikan secara formal maupun nonformal, masih ada anak yang membutuhkan perhatian secara serius untuk pendidikannya.

Peraturah, UUD tahun 1945 2B ayat (2) mengamanatkan agar negara menjamin hak setiap anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta hak atas perlindungan dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

Undang Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan selanjutnya, dalam UU juga dijelaskan tentang definisi perlindungan anak yaitu segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak atas hak haknya agar dapat hidup, tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskrimasi.

Biaya pendidikan yang setiap tahunnya semakin bertambah mahal semakin membebani orangtua, akibatknya dari anak keluarga miskin, sekolah semakin menjadi impian, untuk menikamti fasilitas pendidikan yang “berkualitas” semakin tidak memungkinkan. Banyak anak anak usia sekolah dari keluarga miskin melanjutkan studinya di sekolah yang kualitasnya di bawah standar, orangtua yang berpikiran yang penting biaya terjangkau oleh pendapatan orangtua mereka.

Mahalnya biaya pendidikan di Indonesia disebabkan oleh arus komersialisasi pendidikan pendidikan menjadi komoditas yang ditawarkan kepada anak (orangtua anak) dengan berbagai variasi biaya.
Pendidikan mahal biasanya. Mulai sumbangan pengembanga isntitusi, biaya seragam, biaya kegiatan ekstrakulikuler. Hingga buku teks wajib yang seharusnya tidak menjadi beban orangtua siswa.
Dampak dari komersialisasi pendidikan ini lambat laun akan membuat diskriminasi hak untuk memperoleh fasilitas pendidikan bagi anak anak dari keluarga miskin.



➤ Faktor yang mempegaruhi kemiskinan anak.

Dari semua kelompok umur ( anak – anak ,remaja, pemuda dan lansia ) kelompok anak anaklah yang mempuyai presentase kemiskinan tertinggi. Hal ini dikarenakan tingkat ketergantungan anak terhadap orangtua dalam memenuhi kebutuhan sehari hari mereka masih tinggi selain itu rendahnya kemandirian mereka dari segi ekonomi yang kemudian menjadi salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan anak.

Pendidikan kepala rumah tangga juga mempegaruhi kemiskinan anak. Lebih dari 70 persen anak miskin tinggal bersama kepala rumah tangga dengan pendidikan tamat SD ke bawah. Hal ini mengindikasikan bahwa peran pendidikan sangat strategis dalam pengetasan kemiskianan.

Meskipun tidak ada hubungan lansung antara pendidikan dan kemiskinan, semakin tinggi pendidikan seorang maka kesempatan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak akan semakin besar.

Hasil kajian dari publikasi BPS analisis kemiskinan anak dan deprivasi hak hak dasar anak 2016 menyebutkan bahwa anak yang tinggal bersama kepala rumah tangga bukan migran akan mengalami peluang dua kali lebih besar untuk hidup dalam kemiskinan daripada anak yang tinggal bersama kepala rumah tangga imigran. 

kesempatan kerja yang lebih baik di perantauan akan memberikan penghidupan yang lebih layak dari segi ekonomi maupun dari fasilitas fasilitas dasar seperti Pendidikan, Kesehatan, dan fasilitas umum lainnya. selain itu. tentu ada perbedaan cara pandang orang migran dan bukan orang migran semangat untuk memperbaiki kualitas hidup dari segi ekonomi maupun sosial yang membuat mereka lebih bekerja keras dan berpikir lebih terbuka.

Sumber : Publikasi BPS juli 2017 " analisis kemiskinan anak dan deprivasi hak ahk dasar anak di indonesia ".

Tentu dalam melihat konteks di hari anak nasional HAN ini yang jatuh pada 23 juli 2019. Masih jauh dari seperti yang kita impikan bagaimana kemudian jaminan hak dan perlindungan anak sesuai yang di amanatkan UU 1945 2B ayat 2 dan antara lain UUD nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Kita melihat telah terjadi begitu kompleks permasalahan yang terjadi kepada anak salah satunya di sektor pendidikan.

dalam program pengetasan kemiskinan, pemerintah harus mengedepankan sektor pendidikan alhasil memang tak lansung kita rasakan tetapi untuk investasi jangka panjang. Pembangunan kualitas sumber daya manusia merupakan modal yang sangat bagus buat kelansungan suatu bangsa dan negara.

Membutuhan inovasi yang nyata pada pemerintah terkiat, perlunya sebuah gerakan yang lebih ideal peran dari penggerak literasi, organisasi/komunitas dan semua pihak untuk kemudian sebagai penghubung atas pengetasan kemiskinan dan pendidikan kepada anak di seleruh tanah air tercinta.

Pemerintah (negara) ini yang telah mengikrarkan diri untuk berkomitmen dan memiliki tangung jawab untuk menfasilitasi upaya pencapaian pendidikan dasar bagi anak anak usia sekolah.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kewirausahaan dan Ekonomi Peternakan