Kewirausahaan dan Ekonomi Peternakan



Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak pada peningkatan konsumsi produk peternakan khususnya daging yang secara tidak langsung memberikan peluang usaha dalam memajukan industri peternakan Indonesia termasuk perunggasan. Ternak unggas memberikan kontribusi yang besar terhadap pemenuhan gizi protein asal hewani.
Ayam broiler merupakan jenis ayam yang mempunyai karakteristik dan pertumbuhan yang sangat cepat yang memiliki dada besar dan memiliki banyak timbunan daging. Dalam pemeliharaan ayam broiler untuk mendapatkan produksi yang baik maka dilakukan dengan sistem pemeliharaan yang intensif modern, dengan menggunakan bibit ayam unggul. Usaha peternakan unggas dalam ternak ayam broiler merupakan salah satu jenis usaha yang dapat dikatakan relatif singkat karena proses pertumbuhannya sangat cepat, akan tetapi dalam pemeliharaan ayam broiler perlu manajemen pemeliharaan yang bagus agar supaya produksi yang dihasilkan bagus termasuk dalam manajemen pakan dan tentunya memerlukan biaya yang sangat tinggi.
Peternakan berkembang sangat cepat, pengembangan ayam broiler di Indonesia sangat fantastis, dimana masuk ke Indonesia di era 80-an dan hingga saat ini populasinya lebih dari 1 miliar. Ini berarti bahwa masyarakat sudah mengkonsumsi daging ayam broiler dalam menu sehari-hari. Saat ini, daging ayam broiler menjadi sumber utama protein hewani dengan pangsa rata-rata 70,45%. Ini berarti bahwa sumber protein daging yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah 70,45% berasal dari daging ayam broiler. Hal ini menunjukkan bahwa dibandingkan dengan daging lainnya, ayam broiler lebih mudah diakses, terjangkau, dan sebagai preferensi konsumen. Oleh karena itu, untuk mencapai ketahanan pangan, salah satunya adalah pemenuhan gizi, yang merupakan pemenuhan protein hewani, dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas ayam broiler. Dengan demikian, kewirausahaan peternakan ayam broiler sangat relevan, terutama keterkaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dan bisnis ayam broiler.
Pada saat ini ayam broiler sudah bisa dipanen pada umur 30-35 hari. Percepatan umur panen ini, selain karena inovasi yang dihasilkan oleh teknologi genetik juga karena inovasi di teknologi pakan. Oleh karena itu, inovasi sangat menentukan dalam pertumbuhan peternakan ayam broiler. Selain itu, kebutuhan dan penggunaan inovasi pada peternakan ayam broiler dapat ditemukan juga pada usaha pembibitan ayam broiler, yakni pure line (PL), grand parent stock (GPS), dan parent stock (PS). Inovasi terlihat jelas pada penggunaan bahan baku pakan yang ketersediaan dan kualitas yang beragam menjadi pakan ayam broiler dengan kandungan protein dan energi yang sesuai kebutuhan nutrisi ayam broiler. Kebutuhan inovasi di peternakan ayam broiler lebih jelas tergambar pada produk olahannya yang sangat beragam, terutama jika dilihat siklus hidup dari produk olahannya yang semakin lama. Dengan demikian, peternakan ayam broiler sangat relevan menggambarkan aktivitas kewirausahaan peternakan yang didekati dari peternakan ayam broiler mandiri. Keragaan kewirausahan difokuskan pada dayasaing dan inovasi, sedangkan pertumbuhan bisnis ayam broiler difokuskan pada pertumbuhan populasi dan pendapatan dari ayam broiler. Keragaan kewirausahaan sangat signifikan dan berdampak positif pada pertubuhan ekonomi dan bisnis.
Kewirausahaan peternakan ayam broiler dijelaskan oleh variabel (1) Dayasaing, (2) Inovasi, dan (3) pertumbuhan bisnis. Varibel-variabel ini di jelaskan sebagai berikut:
1. Dayasaing dijelaskan oleh jumlah komputer, jaringan internet, anggaran pengeluaran untuk biaya lisensi seperti hak paten, hak cipta, merek dagang, proses industri, waralaba, nilai tambah, biaya memulai baru, budaya perusahaan, pembentukan usaha baru, daya tawar pembeli, daya tawar pemasok, ancaman pesaing, ancaman produk pengganti, ancaman dari pendatang baru.
2. Inovasi dijelaskan oleh intensitas inovasi, kesediaan berinovasi, tingkat teknologi, intensitas penelitian, pengenalan produk baru, penggunaan metode baru berproduksi, pembukaan pasar baru, penggalian sumberdaya ekonomi baru, bentuk-bentuk baru organisasi, sumber-sumber pasokan baru.
3. Pertumbuhan bisnis dijelaskan dijelaskan dari pertumbuhan produksi, pertumbuhan omzet, pertumbuhan tenaga kerja, dan skala usah Secara skematis,
Berdasarkan pengalaman para peternak dalam waktu yang relatif lama, peternak telah memiliki keyakinan yang kuat akan prospek usaha ayam broilernya dan memiliki banyak keunggulan dalam pengelolaaan usaha yang diadopsi dari manajemen industri. Harga yang cenderung terus meningkat (harga rata-rata nasional Rp. 25.337/kg pada desember 2012 mencapai Rp. 28.299/kg pada November 2013 dan Rp. 28.401/kg pada desember 2013), pasar yang menyebar luas dengan berbagai tingkatan ekonomi yang terus berkembang, telah memberikan keyakinan kepada peternak akan tetap diperolehnya keuntungan, yang menjadikan para peternak terus berupaya untuk mengembangkan skala usaha ayam broiler. Standar-standar yang terus lebih diefisienkan oleh industri hulu dengan peningkatan kualitas bibit, perlindungan kesehatan ternak dan pakan yang paling memenuhi kebutuhan ayam dengan umur tertentu serta adanya sistem budidaya yang teruji, memudahkan peternak untuk menekuni usahanya. Selain itu, bisnis hilir dari produk ayam broiler terus berkembang tidak hanya dalam usaha-usaha UKM, tetapi juga pada skala industri. Usaha ayam broiler merupakan salah satu usaha agribisnis peternakan yang paling berkembang di Indonesia.
Perkembangan ayam broiler di Indonesia sangat fantastis, dimana masuk ke Indonesia di era 80-an dan hingga saat ini populasinya mendekati 2 miliar (Badan Pusat Statistik 2012 dan FAO 2013). Keberadaannya tidak hanya membuka kesempatan berusaha bagi masyarakat luas, tetapi telah memberikan kontribusi ekonomi yang sangat berarti. Selain itu, usaha ayam broiler merupakan salah satu sumber penyedia protein hewani yang harganya terjangkau, jumlahnya relative memadai dengan sebaran yang luas, dan relatif lebih disukai oleh berbagai tingkatan umur masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, bukan tidak mungkin daging ayam broiler akan terus memperkokoh posisinya sebagai sumber utama dalam ketahanan dan kedaulatan pangan untuk penyediaan daging asal ternak.
Kewirausahaan yang telah dimiliki oleh para pelaku agribisnis ayam broiler dapat dipertahankan. Pemerintah berkewajiban memberikan regulasi yang mendorong terus berkembangnya usaha peternakan ayam broiler ini. Keberhasilan usaha dan sistem agribisnis yang terbentuk dan dikembangkan dalam kewirausahaan peternakan ayam broiler, bisa “ditularkan” sebagai virus mental (budaya berwirausaha) pada agribisnis komoditas lainnya. Sinergi yang bersifat simbiosis mutualisme antara industri dan UKM dalam keseluruhan aktivitas kewirausahaan ayam broiler, telah mewujudkan usaha dan sistem agribisnis yang tangguh terhadap berbagai gejolak ekonomi bangsa, dan akan mampu menjadi penopang utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini